Pakan Lele


Pemeliharaan lele di kolam semen atau kolam terpal/plastiktentu tidak memerlukan pemupukan karena tidak efektif. Oleh karena itu, lele yang dipelihara di kolam semen harus diberi pakan.

1. Pemberian pakan

Pakan leledapat berupa bahan sisa-sisa atau limbah pertanian, misalnya dedah bungkil kacang, sisa-sisa isi perut ikan atau ternak yang disembelih, dan sebagainya. Lele juga dapat diberi bekicot (keong racun), atau keong sawah yang dikumpulkan dari lahan di sekitarnya. Di daerah perkotaan, bahan-bahan pakan tersebut sulit diperoleh sehingga perlu digunakan pakan berupa pelet khusus untuk pakan ikan. Dosis pelet pada umumnya 3-5o/o berat badan seluruh lele yang dipelihara di kolam. Agar pertumbuhannya bai( seminggu sekali berat badan lele harus selalu dikontrol. Caranya, diambil sebanyak 10 ekor contoh lele dari sebidang kolam, lalu ditimbang. Berat totalnya dibagi dengan 10 sehingga diperoleh berat rata-rata per ekor. Jumlah seluruh ikan lele yang dipelihara (ditebarkan) di kolam tentu telah diketahui pada saat menebarkannya. Sebagai contoh, pada awalnya lele yang ditebarkan di satu kolam sebanyak 500 ekor dengan berat badan rata-rata 30 g/ekor. Dengan demikian, berat totalnya 500 x 30 g = 15.000 g atau 15 kg. 

Oleh karena itu, pelet yang harus diberikan adalah 50lo x 15.000 9 =750 g (7,5 ons) per hari. Pelet sebanyak itu ditimbang pada pagi hari kemudian disimpan di sebuah wadah atau kantung kemudian diberikan kepada ikan dengan cara ditebarkan di kolam lele dengan frekuensi 3 kali sehari. Pada pagi dan siang hari, nafsu makan lele biasanya agak kurang. Lele lebih bernafsu makan pada sore dan malam hari. Oleh karena itu, sebagian besar pakan sebaiknya diberikan pada sore dan malam hari. Seminggu kemudian, lele diambil contohnya lagi sebanyak 10 ekor, ditimbang seperticara tersebut untuk mengetahui beratnya sekarang. Berat total juga dapat diperhitungkan karena umumnya lele yang dipelihara di kolam semen tidak ada yang mati, kecuali kalau terkena penyakit. Kalaupun ada yang mati tentu pemilik mengetahuijumlahnya karena pengontrolan selalu dilakukan setiap saat. Dengan demikian, dosis pakan dapat diubah segera sesuai dengan berat lele yang masih terdapat di dalam kolam. Perlu diketahui bahwa lele cenderung rakus dan mau memakan pelet setiap kalidiberikan. Dalam sehari, lele dapat menghabiskan pelet lebih dari 57% berat badannya. Meskipun demikian, sebaiknya lele tidak diberi pakan berlebihan dari ketentuan sebab akan merugikan. Pertimbangannya, harga pelet mahal dan lele tidak mau lebih cepat tumbuhnya meskipun diberi pakan banyak. 

Ketentuan dosis pakan sudah didasarkan pada hasil penelitian para ahli, yaitu semakin kecil ukuran benih lele maka persentase pakan harus lebih banyak. Perkiraannya adalah demikian.


  1. Benih ukuran burayak yang baru menetas, dosis pakan per hari adalah 50% berat badannya.
  2. Benih berukuran 3-4 cm, dosis pakan per hari adalah 2Oo/o dan semakin berkurang menjadi '100% berat badannya.
  3. Benih berukuran 6-8 cm, berat badan 30 g/ekor, dosis pakan per hari adalah 5olo berat badannya.
  4. Benih berukuran berat 50 g per ekor atau lebih, dosis pakan per hari adalah 370 berat badannya.


Sangat disarankan, petani cermat dan rajin mengecek berat badan lele yang dipeliharanya seminggu sekali. Dengan demikian, penentuan dosis pakan dapat dilakukan secara tepat dan tidak merugikan atau boros. Pembesaran lele dari benih uku ran 30 g hingga ukuran konsumsi (berat 100 g atau lebih) dianggap paling cepat dibandingkan dengan pembesaran dari benih yang lebih kecil. Dalam waktu 2 bulan (60 hari), pembesaran lele dari ukuran 30 g per ekor dapat mencapai berat 100 g per ekor dengan kecepatan (laju) pertumbuhan 10-1 5olo berat badan per minggu. Banyaknya pakan yang dimakan yang selanjutnya berpengaruh pada pertambahan daging lele disebut angka konversi dari pakan tersebut. Berdasarkan pengalaman, pada pemeliharaan lele konsumsidi kolam semen yang diberi pakan berupa pelet dapat diihasilkan angka derajat konversi 2:1, artinya 2 kg pakan yang diberikan akan menampakkan pertambahan berat I kg daging lele. Angka konversi itu ditentukan oleh sifat lele dalam menyerap pakan secara efisien dan kualitas gizi pakan yang diberikan. Pakan dengan kadar protein 30%, konversinya makin baikdibandingkan dengan pakan yang mengandung kadar protein 23%. Pertumbuhan lele juga lebih cepat jika diberikan pakan berprotein 30% daripada diberikan pakan dengan kadar protein 20%. Sifat efisiensi penggunaan pakan tersebut berlainan untuk berbagai ukuran lele. Efisiensi pakan pada lele ukuran benih berbeda dengan efisiensi pakan pada lele ukuran konsumsi.

Pembuatan pakan

Alternatif pemecahan masalah pakan untuk pemeliharaan lele di kolam semen adalah dengan membuat sendiri pakan tersebut. Berikut diberikan resep pembuatan pakan.
a. Resep 1
Resep ini menghasilkan pakan dengan kadar protein 39o/o (menurut Ningrum da n Djajadire dja, 1 982).

Bahan

  • Tepung ikan 57%
  • Tepung terigu 10%
  • Tepung beras 13%
  • Tepung jagung 10%
  • Tepung darah 5%
  • Vitamin-mineralmix  2%
  • Minyak ikan  3%
  • Jumlah 100%

Cara membuat


  • Bahan dicampur dan diberi air secukupnya.
  • Campuran tersebut direbus/dipanaskan sambil diaduk hingga menjadi bubur yang sangat kental atau dapat dikepal bila telah dingin.
  • Bubur tersebut didinginkan lalu dicetak dengan penggilingan daging sehingga berbentuk seperti mi yang segera patah-patah menjadi pecahan kecil-kecil (pelet). Pelet basah tersebut diangin-anginkan sebentar supaya tidak lembek dan siap diberikan kepada lele di kolam. Kalau sinar matahari terik, pelet dapat dijemur sampai kering agar dapat disimpan agak lama.

Pakan dengan kadar protein 38olo tersebut cukup baik untuk pertumbuhan lele. Faktor konversipakan 1 :1,5 artinya 1,5 kg pakan meng- hasilkan 1 kg lele. Pelet yang agak basah tersebut tidak dapat disimpan lama karena akan berjamur. Oleh karena itu, pembuatan pelet sebaiknya seperlunya saja, cukup untuk 1-2 hari.

b. Resep 2

Apabila bahan-bahan dalam resep 1 sulit diperoleh maka alternatif resep (menurut pengalaman penulis) dan ternyata baik untuk pertumbuhan lele adalah sebagai berikut.

Bahan

  • Tepung ikan (kering) : 500 g
  • Ampas tahu (basah) : 500 g
  • Tepung tapioka : 100 g
  • Vitamin-mineral mix (kalau ada) : 10 g

Cara membuat

  • Tapioka dibuat bubur sangat encer dengan air 1 liter (dipanaskan).
  • Tepung ikan, ampas tahu, dan vitamin-mineral mix diaduk kemudian dituangi bubur encer tapioka yang sudah dingin. Campuran itu diremas-remas hingga terbentuk adonan kental seperti getuk atau adonan kue yang dapat dikepal-kepal.
  • Kepalan adonan digiling dengan penggiling daging untuk mencetaknya menjadi pelet (potongan-potongan mi).
  • Pelet ini masih lembap sehingga perlu diangin-anginkan dan dijemur.

Bila dapat kering dalam sehari, dapat disimpan beberapa hari. Bila tidak ada matahari yang terik mungkin tidak dapat kering sehingga mudah berjamur.
Pelet basah dapat langsung diberikan kepada ikan lele dengan dosis per hari 5-10o/o berat ikan yang dipelihara. Bila pelet kering, dosisnya 3-5% berat ikan per hari. Pelet yang dijual di pasaran sering kali kadar proteinnya rendah, tidak sesuai dengan mutu yang tercantum pada karungnya. Oleh karena itu, sering kali lele tidak tumbuh baik walaupun telah diberi pakan lebih dari7% berat lele. Apabila kadar protein pelet relatif rendah maka lele perlu diberi pakan tambahan berupa cacahan daging bekicot atau keong sawah/keong
mas agar tumbuh pesat dan cepat gemuk.

Pola Pemeliharaan Lele


Penggunaan kolam pekarangan untuk lele disesuaikan dengan tujuannya. Dengan demikian, ukuran benih yang ditebarkan ke dalam kolam inijuga berlainan sesuai dengan tujuan pemeliharaan.

1. Pendederan benih tahap I

Pada kegiatan ini, benih yang ditebarkan masih amat kecil, yaitu umur 2 minggu sejak menetas. Kepadatan penebaran dapat mencapai 50 ekor/ m2. Lama pendederan umumnya I bulan dan akan dihasilkan benih rere
berukuran panjang 5-6 cm. Benih ukuran ini sudah dapat dijual.

2. Pendederan benih tahap ll

Benih yang akan ditebarkan pada kegiatan ini berukuran panjang 5-6 cm dengan kepadatan 20-25 ekor per m2. setelah dipelihara selama 1 bulan, lele menjadi berukuran 5-8 cm dengan berat kira-kira 20 g per ekor.
Benih dengan ukuran ini disebut "gelondongan sedang".

3. Pedederan tahap lll

Benih yang ditebarkan berukuran 5-g cm. Waktu pemeliharaan selama 1 bulan. Hasilnya berupa benih dengan berat 40-50 g/ekor dan panjangnya 10-12 cm. Benih yang sudah besar ini disebut,,gelondongan
besar". Biasanya dalam pemeliharaan selanjutnya kepadatan dikurangi menjadi 10 ekor/m2 saja. sebagian benih dipelihara di kolam lain atau dijual sebagai benih gelondongan besar yang ukurannya sudah 50 g per ekor.

4. Pembesaran

Benih yang ditebarkan dalam kegiatan ini telah berukuran berat 50 g/ekor dengan kepadatan 10 ekor/m2. pemeliharaan dalam pembesaran ini dilakukan selama 45 hari sampai 2 bulan. pada umur ini, rere sudah dapat mencapai ukuran yang pantas untuk dihidangkan, yaitu seberat 100-125 g per ekor atau 8-10 ekor per kilogram.

Pengelolaan Burayak


Bila lele dumbo telah memijah (bertelur) di dalam bak pemijahan maka keesokan harinya kakaban yang tampak telah penuh dilekati telur dipindahkan ke dalam bak pendederan yang telah disiapkan 2 hari sebelumnya. Setelah 30-40 jam, telur akan menetas di dalam bak pendederan ini. Kalau telah tampak burayak menetas semua (keesokan harinya), kakaban dapat dikeluarkan dari dalam bak pendederan itu. Kakaban segera dicuci, dijemur, lalu disimpan agar dapat digunakan lagi. Benih lele yang baru menetas (burayak) sampai umur 2 haritidak perlu diberi pakan. Hal ini karena burayak tersebut masih belum dapat makan dan hanya menyerap zatgizi dari kuning telurnya sendiri. pada hari ketiga mulai diberikan serbuk halus, yaitu pelet pakan ikan yang ditumbuk atau dihaluskan dengan blender.


Dosis pakan untuk burayak ini diberikan sedikit-sedikit saja, cukup 2 sendok makan sekali pemberian. Cara memberikannya tidak ditaburkan merata, melainkan pakan berupa tepung tersebut dibasahi dengan sedikir air agar menggumpal dan dapat tenggelam, lalu dionggokkan sedikit demi sedikit di bebebrapa tempat sehingga dapat diamati ketika burayak lele bergerombol memakan serbuk pakan tersebut. Apabila burayak ini tampak bernafsu untuk makan, berarti masih belum kenyang sehingga perlu ditambahkan lagi pakan sampai dalam waktu sekitar 5 menit burayak makan. setelah itu, pemberian pakan tersebut sebaiknya dihentikan. Pada tengah hari dan sore hari, pakan diberikan lagi. Jadi, sehari diberi pakan 3 kali. Di dalam air kolam tentu banyak  ditumbuhi binatang renik semacam rotifera dan protozoa yang cocok untuk pakan burayak. Burayak yang telah berumur 3 hari mulaidiberi pakan berupa kutu air (Daphnia atau Moina) dan cacing sutera. 

Pakan ini dapat dibeli dari pengumpul kutu air dari selokan atau danau-danau kecil di sekitar kampung. Pemeliharaan burayak di kolam pendederan biasanya berlangsung selama 12-15 hari saja. selama selang waktu itu biasanya air tidak perlu diganti, cukup ditambah saja bila terjadi banyak penguapan. Murai umur 12 hari, burayak lele sudah dapat dijual atau dipindahkan ke kolam pendederan yang lebih besar agar pertumbuhannya lebih cepat. Bila pemeliharaan berhasil dengan baik dari seekor induk lele betina yang beratnya 1 kg dapat dihasilkan 40.000-60.000 ekor burayak umur 12-14 hari. Dari pemeliharaan di pendederan selama 12-14, diperoleh benih lele ukuran 2-3 cm. Benih kecil ini sudah dapat dipindahkan untuk diperihara lebih lanjut di kolam atau sawah atau sudah dapat dijual.

Pemeliharaan Lele di Kolam Perkarangan



Pekarangan dapat digunakan untuk memelihara lele. Selain dekat dengan tempat tinggal, lokasi tersebut relatif aman serta mudah diawasi, dijaga, dan dikelola. Di kolam pekarangan dapat dilakukan kegiatan pembenihan, yaitu pemeliharaan induk lele disusul dengan pendederan burayak hingga menghasilkan benih siap jual yang berumur 1 bulan. Bahkan dikolam ini juga dapat dilanjutkan dengan pemeliharaan lele hingga ukuran lebih besar, asalkan luas dan kedalaman kolam memenuhi syarat. Di daerah perkotaan, kolam pekarangan dibuat dengan bata dan semen, seperti kolam hias atau kolam taman. walaupun maksudnya untuk keindahan, tetapi dapat juga dipergunakan untuk memelihara lele. 


Hasilnya pun tentu lumayan karena lele tahan dipelihara dengan kepadatan yang cukup tinggi, yaitu 7-10 ekor per m2. Luas kolam disesuaikan dengan luas lahan. Ukuran kolam pekarangan dapat sangat kecil (hanya 1 m'? hingga 2 m'1 saja) atau dapat juga seluas 100 m2 sampai 200 m2. Biasanya kolam yang berukuran kecil, misalnya 2 m x 3 m sampai 3 m x 5 m, lebih baik karena penggunaan air dapat dihemat. Kedalaman kolam untuk pembesaran maupun untuk pemeliharaan induk lele cukup 50-75 cm.

Jenis Kolam
Dalam kaitannya dengan budidaya lele, ada beberapa jenis kolam yang dapat dibuat di lahan pekarangan yang pada dasarnya disesuaikan dengan penggunaan (fungsi) kolam dan sifat tanahnya, yaitu dapat menahan air dengan baik dan tidak merembes (tidak porous).
Kolam pemijahan khusus untuk lele dumbo
Untuk membudidayakan lere dumbo, diperrukan koram.pemijahan dan kolam penetasan telur yang juga berfungsi untuk kolam pendederan burayak. Kolam pemijahan dibuat di atas tanah, yaitu dasar kolam dan tanggul dari tanah. Namun, bila tanah pekarangan bersifat merembeskan air sebaiknya kolam dilapisi dengan lembaran plastik hingga menutupi tanggulnya. Kolam dapat berbentuk segi empat maupun bulat, kedalaman sebaiknya 1 m atau minimal 75 cm. sementara kedalaman air minimal 50 cm, mengingat lele dumbo yang memijah sering melompat saat berkejar-kejaran. Luas kolam pemijahan minimal 1 m x 2,5 m untuk 2 ekor betina dan seekor jantan atau ukuran 2 m x 3 m untuk mengawinkan 3 ekor betina dan 2 ekor jantan. Sebelum digunakan, kolam pemijahan disiapkan sehari sebelumnya, yaitu dibersihkan dahulu lalu di bagian dasar kolam diletakkan kakaban dari ijuk sebanyak 6-8 buah. setelah itu, kolam diairi sedaram 50 cm. Air tidak perlu mengalir, cukup tergenang saja.

Kolam penetasan telur dan pendederan
Kolam pendederan sekaligus juga berfungsi sebagai kolam penetasan telur. Kolam ini juga dibuat di lahan pekarangan dengan dilapisi prastik. Ukuran kolam disesuaikan dengan ukuran lembar plastik yang ada. Di pasaran terdapat lembar plastikselebar2 m (dilipat rangkap menjadi ukuran 1 m), ada pula yang selebar 3 m (dilipat rangkap menjadi 1,5 m). Lembar plastik itu hendaknya dapat menutupi pematang kiri maupun kanan dan dasar kolam tanpa sambungan agar tidak ada kebocoran. panjang kolam disesuaikan dengan panjang lahan pekarangan yang tersedia. Sebagai contoh, ukuran panjang kolam 2-6 m, lebar 1,5-2 m, dan kedalaman kolam 20-30 cm, dibuat berjajar dua supaya hanya ada satu tanggul pemisah di tengah. Konstruksi seperti ini dapat menghemat pembuatan tanggul. Dua buah kolam dengan ukuran tersebut cukup untuk menetaskan dan mendederkan benih dari sekali pemijahan dua ekor induk betina dan satu ekor induk jantan. Ketinggian tanggul untuk kolam pendederan cukup 20 cm dan lebarnya 5-10 cm (selebar satu bata/batako). Khusus kolam pendederan, berhubung dangkal maka perlu diberi atap dari plastik.dengan tiang dari bambu setinggi 1-1,5 m. Atap inicukup untuk melindungi kolam dari terik sinar matahari dan dari curahan air hujan agar air di kolam itu tidak meluap pada saat hujan deras.

Kolam pemeliharaan benih

Pemeliharaan benih selepas dari pendederan sebaiknya dilakukan di kolam dengan dasar tanah. Kolam tanah hanya dapat dibuat di lahan yangtanahnya dapat menahan air dengan baik. Pakan alami dapat ditumbuhkan dengan pemupukan sehingga lebih ekonomis dibandingkan dengan kolam berlapis plastik ataupun kolam semen ditanah yang bersifat rembes (porous). Pemeliharaan benih ini tidak hanya untuk lele dumbo, melainkan lele lokal juga.

Kolam pembesaran
Kolam untuk tujuan membesarkan benih menjadi lele konsumsi juga sebaiknya dibuat dengan dasar tanah, agar lebih ekonomis. Kolam pembesaran juga dapat berlanjut menjadi kolam pemeliharaan calon-calon induk sampai dapat dipijahkan. Apabila kolam pembesaran dan pemeliharaan induk dilakukan di kolam berlapis plastik dan/atau kolam semen maka tidak dapat dipupuk dan harus diberikan pakan pelet (pakan buatan) yang cukup banyak dan harganya cukup mahal sehingga tidak ekonomis.

Pengairan
Sumber air untuk kolam pekarangan bisa berupa air dari sumur pompa (bila ukuran kolam tidakterlalu luas)atau airdarisungaimaupun irigasi. pada daerah panas (banyak terik matahari), ketinggian air kolam minimal 75 cm, sedangkan didaerah dingin cukup 50 cm. Bila terpaksa menggunakan kolam berisi air comberan, tentu ada risikonya karena air comberan menampung banyak kotoran yang membusu k. OIeh karena itu, penggu naa n air comberan cenderung tidak dianjurkan karena kemungkinan mengandung endapan racun yang berasal dari sabun atau deterjen. Air kolam untuk pemeliharaan lele tidak harus mengalir. Air yang selalu tergenang pun masih dapatdigunakan untuk memelihara lele, hanya sesekali saja air itu perlu ditambah atau diganti sebagian. selama pemeliharaan dua minggu, air di dalam kolam tidak perlu diganti, hanya perlu ditambah air sedikit bila dirasa air berkurang akibat penguapan. Di berbagai kolam pekarangan, dapat dipelihara lele dalam kepadatan yang cukup tinggi (5-10 ekor/m2) sehingga sangat efisien dalam penggunaan lahan. Namun, jika kepadatan lele makin tinggi maka air harus makin sering diganti atau kolam perlu dialiri air baru. Hal ini dimaksudkan untuk membuang kotoran yang ada sebab bila tingkat kepadatan lele cukup tinggi tentu banyak kotoran maupun sisa-sisa pakan yang terdapat di kolam. Kotoran iniakan membusuk kemudian menjadi gas yang terlarut dalam air dan berbahaya bagi pertumbuhan lele, misalnya amonia, nitrat, dan nitrit. Apabila kadar gas-gas tersebut makin banyak maka lele menjadi stres, nafsu makannya kurang, dan mudah terserang penyakit sehingga pertumbuhannya lambat.

Pemupukan
Pakan lele yang dipelihara di kolam pekarangan harus diatur agar biayanya dapat semurah mungkin. Caranya yaitu dengan pemupukan untuk memperbanyak pakan alami. Pemupukan hanya boleh dilakukan pada kolam tanah. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kandang maupun pupuk hijau beftujuan untuk memperbanyak pakan arami. pupuk jenis ini merupakan pupu k organik ya ng akan merangsang pertumbuhan binatang-binatang renik di dasa' maupun di air totur. Binatang renik pakan lele berupa cacing, siput kecil, kutu air, jentik-jentik nyamuk dan serangga lainnya. Pupuk kandang yang sering igrnutun berasaldari kotoran ayam, sapi, kambing, atau kuda. Meskipun hanya dari pemupukan saja, tetapi kebutuhan pakan lele dapat terpenuhi dan telah memungkinkan lele untuk berproduksi.Dengan penggunaan pupuk ini, petani pada umumnya telah mampu memproduksi lele dengan biaya yang murah.

Pemberian pupuk kandang
Pupuk kandang yang digunakan sebanyak 1 karung, kira-kira 50 kg. Pupuk sebanyak ini digunakan untuk sekari pemupukan pada koram seruas 100 m2' Satu kali pemupukan awal ini cukup untuk pemeliharaan selama l bulan. Bila waktu pemeriharaannya melebihi 1 bulan maka peru dilakukan pemupukan ulangan. pemupukan ulangan diberikan setiap 2 minggu sekali sebanyak 05 karung setiap kali pemberian per 100 m2 kolam.

Pemberian pupuk hijau
Pupuk hijau ataupun jerami padi dibenamkan ke dalam lumpur kolam sebelum kolam diairi. Pupuk hijau yang diperlukan sebanyak 2_3 pikul untuk memupuk 100 m2 koram. Daun yang membusukakan menarik banyak serangga air bertelur dan jentik-jentiknya menjadi pakan lele. pembusukan daun-daun itu juga menambah unsur hara dan meningkatkan kesuburan kolam.

Pemberian kompos
Apabila digunakan kompos maka dosis dan cara penggunaannya sama seperti pupuk kandang. 

Pupuk kimia (anorganik)
Pupuk buatan, seperti urea dan TSP, dapat digunakan untuk memupuk kolam pemeliharaan lele, tetapi pengaruhnya tidak langsung. pupuk urea dan TSP akan larut dalam air lebih dahulu kemudian mendorong pertumbuhan fitoplankton atau ganggang hijau dan selanjutnya menjadi makanan zooplankton dan larva serangga yang dimakan oleh lele. Jadi, meskipun dapat digunakan, tetapi pemupukan dengan pupuk buatan kurang efisien karena pengaruhnya tidak langsung.

Pembenihan Sistem Ciganjur


Cara atau sistem pembenihan lele ini dikembangkan di Balai Benih lkan Ciganjur, Jakarta Selatan. Untuk daerah perkotaan, sistem ini diperkirakan cocok karena dapat digunakan kolam yang sempit dan hanya diperlukan sepasang induk lele yang akan dipijahkan.

Konstruksi kolam dan bak pemijahan

Ukuran kolam dibuat dengan panjang 2 m, lebar 1 m, dan kedalaman 0,4 m. Kolam harus dibuat dari semen dan bata. Pada tepi atas kolam dibuat sedikit menjorok ke dalam agar lele tidak mudah melompat keluar. Di tengah-tengah dasar bak dibuat cekungan untuk mengumpulkan benih lele bila telah menetas kelak. Di dasar cekungan diberi lubang dari pipa paralon sebagai pipa pembuang (penguras). Di bagian tengah kolam disusun batako sebanyak 8-10 buah atau beberapa bata yang berfungsisebagaitempat untuk bersarang lele. Ukuran kotak itu 30 cm x40 cm x20cm. Pada bagian depan menyempit membentuk lubang terbuka (pintu masuk) selebar 10 cm. Bak yang baru dibuat dari bahan semen dan bata atau batako bersifat sangat alkalis (pH tinggi). Oleh karena itu, sebelum digunakan, bak harus dinetralkan dahulu dengan cara merendam bak tersebut dengan air penuh lalu dimasukkan sabut kelapa dari beberapa buah kelapa, misalnya 10 buah. Setelah bak direndam maka warna air akan menjadi cokelat dan makin lama makin pekat seperti air teh kental. Kondisi ini disebabkan oleh adanya zat tannin (asam humus) yang terkandung di dalam sabut kelapa yang tua itu melarut dalam air. Biarkanlah rendaman itu selama 4-5 hari lalu air rendaman dibuang dan bak dicuci dengan air bersih. Setelah itu, bak diisi dengan air baru kemudian diukur pH-nya, tentu sudah menjadi netral (pH 7,0-7,5) dan cocok untuk kehidupan ikan. Kini bak tersebut dapat digunakan untuk memijahkan lele. Sebelum digunakan, ke dalam bak pemijahan diletakkan ijuk yang telah dicuci dan dikeringkan sebagai alas tempat melekatnya telur. Setelah diisi air dan sepasang induk lele yang siap memijah dimasukkan, bak ditutup dengan seng plastik agar suasana gelap, tenang, dan bila hujan, tidak luber oleh air hujan.

Pemijahan

Pasangan indukyang hendakdipijahkan harus dipilih yang benar-benar sudah siap untuk memijah. Kalau salah satu pasangan kurang siap, sering kali terjadi kegagalan karena tidak ada pilihan pasangan lain di kolam itu. Seorang teknisi atau petani ikan yang telah berpengalaman tentu dapat mengenali ikan yang telah dalam kondisisiap untuk memijah. Sebaiknya indukjantan dan betina yang telah dipilih dan siap memijah dimasukkan ke dalam kolam di pagi hari sehingga seharian induk itu dapat menyesuaikan diridan mengenalitempat bersarangnya. Pada hari itu pakan yang diberikan sebaiknya berupa cacing, cacahan keong racun, atau keong sawah, Jumlahnya tidak perlu banyak, diperkirakan dapat habis dimakan selama 5 menit, hanya sekadar mengisi perutnya karena nafsu makan induk lele yang akan memijah relatif kurang. Pemijahan lele berlangsung sore atau malam. 

Keesokan harinya dapat terlihat telur-telur tersebar di dalam sarang, ada yang menempel pada ijuk, tetapi sebagian tercecer di luar kotak sarang. Telur yang telah dibuahi berwarna cerah (abu-abu jernih) dan akan menetas setelah satu hari berikutnya. Telur yang tidak terbuahi akan mati dan menjadi berwarna keruh, akhirnya ditumbuhi jamur. Telur-telur yang mati itu harus segera dibuang supaya jamurnya tidak menulari telur yang lain. Pada pagi hari, sebaiknya kolam segera dialiri dengan air segar yang baru secara perlahan-lahan agar induk tidak merasa terganggu. Selama beberapa hari, kedua induk menunggui telurnya. Kadang-kadang induk jantan bersifat galak dan memakan telur atau burayaknya. Oleh karena itu, induk jantan sebaiknya dikeluarkan saja dari kolam. Setelah seminggu,biasanya induk lele sudah tidak menghiraukan anak-anaknya lagi. pada saat ini, burayak lele sudah dapat dipanen dan induknya dikembalikan ke dalam kolam pemeliharaan induk. Burayak lele selanjutnya dipelihara di kolam pendederan dan kolam pemijahan dapat digunakan lagi untuk memijahkan lele.

Dapat pula, burayak tetap dipelihara di dalam kolam pemijahan itu selama 2-3 minggu dengan diberi pakan berupa pelet yang ditumbuk halus dan organisme renik seperti cacing sutera dan kutu air. Cacing sutera dan kutu air merupakan binatang renikyang banyakdijual untukpakan ikan hias. Binatang air ini ditangkap/dikumpulkan dari perairan rawa-rawa atau comberan.

Pembenihan Sistem Blitar


Pada tahun 1980, seorang petani yang kreatif dengan daya ciptanya dapat menemukan cara tersendiri sehingga teknologi budi daya dapat ditingkatkan. Petani di Blitar (Jawa Timur) bernama Machfud Effendi, telah dikenal di kalangan para peternak lele karena ia telah membuat suatu model kolam pembenihan lele yang bentuk dan susunannya khas. Kolam itu dibuat di pekarangannya. Bentuk kolam kreasi petani inidikenal sebagai "kolam pembenihan lele sistem blitar". Secara rinci, kolam pembenihan diterangkan seperti berikut.

Kolam pemeliharaan induk/tempat pemijahan

Pembenihan lele lokal sistem blitar, yaitu kolam tempat pemeliharaan induk sekaligus juga berfungsi sebagai kolam pemijahan. Di sekeliling tepi kolam pemeliharaan induk tersebut dibuat kotak-kotak tempat pemijahan

Bentuk dan luas kolam pemeliharaan induk dan pemijahan ini pada umumnya tergantung pada luas tanah pekarangan yang dimiliki ataupun menurut selera petani. Kolam ini sebaiknya dibuat di pekarangan yang dekat dengan rumah agar mudah dikontrol demi pengamanannya. Bentukkolam sebaiknya empat persegi panjang atau bujur sangkar. Luas kolam disesuaikan dengan selera petani, misalnya 2 m x 3 m sampai 5 m x 10 m. Namun, kedalamannya disarankan tidak kurang dari 1 m. 
Kolam pemijahan inisebaiknya memperoleh air irigasiyang terhindar dari pencemaran maupun air buangan dari industriipabrik. Apabila dasar dan dinding kolam disemen maka sebaiknya dasar kolam diberi lapisan pasir dicampur tanah liat setebal 10 cm saja supaya tercipta suasana yang alamiah bagi lele. Supaya lele tidak mudah merayap ke luar kolam diwaktu hujan maka pada bibir kolam dipasangi dinding dari plastik atau kawat kasa selebar 15 cm. Pipa untuk memasukkan air ke dalam kolam dapat dibuat dari pipa paralon atau bambu yang dipasang agak tinggi sehingga jatuhnya air ke dalam kolam sedikit terjal sehingga pelarutan udara ke dalam air cukup baik dan memberi kesegaran bagi ikan-ikan. Untuk mengeluarkan air dari kolam, dibuat pintu air berbentuk monik.


Pintu pembuangan air dapat juga dibuat dari pipa-pipa paralon saja sehingga biayanya menjadi lebih murah. Pintu pembuangan ini berupa pipa tegak di sebelah dalam kolam, berfungsi untuk mengontrol kedalaman air. Pipa yang di luar kolam dapat dilepas sehingga berguna untuk menguras atau mengeringkan kolam secara total. Apabila tanahnya tidak porous dan tidak mudah bocor maka kolam induk dan pemijahan inijuga dapat dibuat dari tanah saja, tanpa disemen. Kotak-kotak pemijahannya juga dapat dibuat dari belahan bambu yang disusun sebagai kotak dan dipasang di tepi kolam.

Kotak pemijahan

Di sekeliling tepi kolam pemeliharaan induk dibuat kotak-kotak tempat lele memijah dan meletakkan telurnya. Ukuran kotak pemijahan tersebut adalah lebar 50 cm, panjang 50 cm, dan kedalaman 60 cm. Kotak-kotak tersebut dibuat dari semen bila kolamnya disemen atau dapat pula dari bambu jika kolamnya berupa kolam tanah. Pada dinding kotak yang menghadap ke dalam kolam induk itu dibuat 2 buah lubang dengan garis tengah '15 cm.Jarak kedua lubang itu 15 cm. Lubang itu sebagaijalan masuk ke dalam kotak bagi lele yang akan memijah. Pada dinding belakang, yakni yang menghadap ke luar kolam, dibuat pula sebuah atau dua buah lubang yang terletak di bagian dasar kotak itu. Tujuannya untuk memudahkan pengeringan dan memanen benih-benih lele. Lubang itu dapat disumbat dan dengan mudah dapat dibuka kembali.
Di dinding atas kotak itu diberi tutup dari kayu dan dapat dibuka jika ruangan dalam kotak hendak dibersihkan. Pada tutup itu diberi beberapa lubang agar suasana di dalam kotak tidak terlalu gelap dan masih ada kesegaran udara (tidak pengap). Jarak antara kotak pemijahan dibuat 75-100 cm sehingga induk-induk lele yang memijah tidak terganggu oleh lele lain yang kebetulan memijah dalam kotak di sebelahnya. Letak kotak-kotak pemijahan itu ada di bagian atas kolam, di dekat bibir tepi kolam, sedemikian rupa sehingga kedalaman air di dalam kotak-kotak itu hanya 30 cm. 

Dengan adanya kotak-kotak pemijahan diharapkan lele dapat memijah dan mengasuh anak-anaknya dalam suasana aman dan tenang. Selain itu, peternak juga menjadi mudah mengawasinya. Dasar kotak pemijahan perlu diberi alas berupa pasir yang bersih dari lumpur, tetapi lembut dan bersih. Alas ini dapat juga diberi sedikit ijuk (yang sudah dicuci dan dikeringkan) sebagai tempat melekatnya telur. Kebersihan itu perlu agar telur tidak mudah terkena jamur dan bakteri. Biaya pembuatan bak pemijahan dari semen tentu cukup besar. Konstruksi yang lebih sederhana serta murah biayanya telah dicoba di Balai Benih lkan di Sebulu, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur pada tahun 1983. Uji coba bak pemijahan ini dimaksudkan sebagai percontohan bagi petani kecil agar dapat membuatnya dari bambu yang mudah diperoleh di perkampungan. 

Cara membuat kotak-kotak pemijahan dari bambu yaitu dengan menancapkan cerucuk bambu (bambu belah) berderet tegak di sepanjang pematang (dinding kolam di bagian atas). Di beberapa tempat pada tanggul kolam dibentuk rongga-rongga. Rongga itu berbentuk kotak segi empat dengan ukuran panjang 50 cm, rebar 50 cm, dan tinggi 60 cm. Kotak-kotak itu sebagai dindingnya juga diberi cerucuk bambu supaya tanahnya tidak mudah longsor. Rongga-rongga itu dibuat berderet sepanjang tepi kolam dengan jarak 75-1oo cm. Bagian depan kotak diberi Iubang sebagai pintu masuk bagi lele yang hendak berterur di situ. Bagian atas rongga atau kotak sarang itu juga diberi tutup yang terbuat dari kayu yang mudah dibuka. Tutup kayu itu gunanya untuk memudahkan pengambiran benih pada saat pemanenan. Di daram rongga atau kotak buatan dari bambu itu, ternyata lele juga mau bertelur.

Pengaturan air kolam pemeliharaan induk/pemijahan

Di alam bebas maupun di daram koram, rere tahan.terhadap faktor lingkungan yang tidakterraru baik. Meskipun reretahan terhadap ringkungan comberan, tetapi agar hasil benihnya baik maka tempat pemijahannya memerlukan kondisi air yang segar dan bersih, mengandung cukup oksigen, dan tidak mengandung bahan pencemar. Kolam yang dibuat di pekarangan biasanya akan menerima air limbah dari rumah yang tidak mustahil mengandung sabun dan deterjen. Ini jelas sangat berbahaya untuk ikan. Air PAM (Perusahaan Air Minum)juga kurang baik untuk kolam pemijahan karena mengandung kaporit. 

Air kolam pemijahan lele sebaiknya diperoleh dari saluran irigasi yang bebas pencemaran limbah industri. Air sungai yang keruh karena bahan tanah yang tererosi (berwarna cokelat muda) harus disaring dengan saringan pasir atau diendapkan selama 2 hari di dalam bak pengendapan sebelum air itu dimasukkan ke dalam bak pemijahan lele. Apabila digunakan air sumur maka air sumur itu perlu diukur pH-nya sebab kerap kali air sumur bersifat asam (pH rendah). Air asam ini perlu dibubuhi kapur tohor. Kapur tohor sebanyak 2-3 g per m3 atau 3 ppm cukup untuk menaikkan pH menjadi 7,0-7,5. Air dengan pH seperti itu cukup baik untuk mengairi bak pemijahan lele. Kolam tempat pemijahan dan pemeliharaan induk yang telah dipersiapkan dengan baikdapatdiisiairsetinggi kira-kira 80 cm hingga kotak tempat pemijahannya terendam air setinggi 3/4bagian saja. Jumlah induk lele (jantan maupun betina)yang dipelihara di kolam disesuaikan dengan jumlah kotak pemijahan yang dibuat. Sebaiknya jumlah induk jantan sama dengan jumlah kotak pemijahan, sedangkan jumlah betina 1,5 kali jumlah jantannya. Apabila jumlah kotak 6 buah maka induk jantan yang dipelihara sejumlah 6 ekor dan induk betinanya 9 ekor.

Pengelolaan kolam pemeliharaan induk/pemijahan

lnduk lele biasanya bertelur pada awal musim hujan. Namun,lele dapat saja memijah setiap waktu asalkan sudah dapat hamil tua. lnduk lele dapat mencapai kehamilan (telur di dalam indung telurnya berkembang) bila induk lele itu mendapat cukup pakan yang banyak mengandung protein dan vitamin yang diperlukan. Sebaiknya induk lele diberi pakan pelet yang dapat dibeli di toko, secara rutin setiap hari, sebanyak2-3o/o dari bobot seluruh lele yang dipelihara. Kadang-kadang lele perlu diberi pelet yang telah dilumuri minyak ikan kemudian diangin-anginkan agar kering dan lengket. Minyak ikan akan mempercepat perkembangan telur. lnduk lele yang diberi pakan bermutu baik biasanya dapat memijah setiap 2-3 bulan sekali. 

Bila telur di dalam perut induk telah berkembang dan matang tentu induk lele itu akan berpasangan dan mulai menggunakan kotak pemijahan. lnduk lele akan kawin dan meletakkan telurnya. Setelah bertelur, keesokan harinya air kolam beibau anyir dan induk lele terlihat berada di depan kotaknya untuk menjaga telurnya itu. Kegiatan menjaga telur ini dilakukan oleh induk betina saja, sedangkan induk jantan akan meninggalkannya.
Lamanya induk betina menungguitelur biasanya seminggu sampai anak-anaknya dapat keluar dari sarang (kotak) tersebut. Sebelum keluar dari sarang, burayak sebaiknya segera diambil (dipanen) saja untuk dipelihara di dalam bak pendederan agar tidak dimakan oleh lele yang lain. Air kolam pemijahan itu sekali-sekali harus dialiri dengan air baru yang segar, tetapi tidak perlu terlalu deras. Meskipun demikian, ketinggian air harus selalu cukup dan kedalamannya tidak berubah. Apabila dikehendakiagar lele cepat memijah maka aliran air perlu dideraskan selama seharian suntuk air keluar masuk. Biasanya aliran air yang deras tersebut akan merangsang induk untuk segera memijah.